Skip to main content

Apa yang salah dengan hari ini ?

Sumber : Pinterest
Pernahkah kau merasa sangat gundah pada suatu malam tanpa tahu penyebabnya ?. Pernahkah kau merasa tiba-tiba tidak ingin melakukan apa-apa ?. Atau mungkin kau pernah berfikir begitu keras kenapa kamu harus berfikir sekeras ini?”. ? aku sedang bingung
            Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi pada diriku, hari ini aku merasa telah menjalani sebuah hal yang biasa-biasa saja. Datang ke kampus di waktu pagi, bercengkrama dengan teman sambil tertawa, dan singgah membeli cemilan waktu pulang kampus. Sebuah hal yang sangat sederhana yang kulalui tiap hari. Tapi malam ini, entah kenapa dunia terasa begitu sunyi, Seolah setiap rasa sepi yang ada di dunia sedang menghampirimu. Aku sudah makan, sehingga yakin perasaan buruk yang kualami bukanlah sebuah gangguan pencernaan. Aku juga sangat yakin bahwa mataku belumlah terlalu lelah untuk tertidur. Apa yang sedang kurasakan ?

        Segera kulirik kopi sachet yang kubeli dalam perjalanan pulang kerumah, dan berinisiatif untuk membuat segelas kopi untuk menemaniku berfikir. Pasti ada sesuatu yang salah sehingga aku merasa tidak tenang seperti ini. Aku berjalan menuju dapur dan segera memanaskan air kemudian duduk di kursi lipat sambil merenungi kejadian hari ini.
            Biar kurunut apa saja yang telah terjadi hari ini. Sekitar jam 10 pagi, aku sampai di kampus dan langsung dihampiri oleh seorang teman yang meminta untuk ditemani melegalisir ijazah di kampus sebelah. Tentu saja kau tidak bisa menolak permintaan dari seorang teman yang begitu akrab denganmu dan alasan lainnya memang tidak ada orang lain lagi yang bisa menemaninya selain aku. Dia memboncengku menuju ke kampus sebelah dan segera menuju ke kantor jurusan untuk menyelesaikan urusan ijazah tersebut. Sebelum masuk jurusan aku bertemu dengan kawan lama, seorang kawan seperjuangan dari daerah yang sama. “ah kebetulan sekali, seorang tour guide”. baiklah, aku akan meminta tolong kepadanya untuk segera menyelesaikan masalah ini.
            Dia bersedia menolong, kami segera berangkat ke gedung fakultas untuk melegalisir ijazah karena menurutnya, kantor jurusan bukan bagian yang berwenang untuk itu.  Sesampainya disana, aku bertemu dengan seorang perempuan, perempuan yang dulu pernah mencuri perhatianku, aku hanya bertegur sapa sebentar karena tujuan utama kami harus dipercepat. Sayang sekali, orang yang betugas untuk melegalisir ijazah sedang tidak berada di tempat, orang disana hanya menyarankan agar kami kembali pada hari kamis. Yah, apa boleh buat kami segera keluar dari gedung tersebut dan kembali ke kampus sendiri setelah terlebih dahulu berterima kasih kepada tour guide kami.
        Kembali ke suasana kampus, kami duduk di gazebo dan bercengkrama dengan teman-teman seperjuangan. Beberapa candaan dengan suara yang sangat keras nyaring terdengar. Kami hanya tertawa-tawa dengan candaan yang tidak terbendung itu walaupun beberapa candaan agak terdengar kotor. Disela-sela itu, seorang menanyakan perihal lembar pengesahan pembimbingku yang belum di stempel. Aku segera menuju ke kantor fakultas untuk meminta stempel pengesahan sambil menarik tangan gadis yang tadi memberitahuku. Lagi-lagi orangnya tidak ada, dia sedang keluar untuk makan siang. “Ah sial…” kami segera turun ke tempat tadi bercengkrama. Tanpa sadar ternyata ada seorang yang menatapku tajam. Terakhir aku tahu kalau dia adalah pacar gadis yang menemaniku naik ke kantor fakultas tadi. Biarkan sajalah lagipula aku hanya meminta tolong saja.
            Aku menanyakan perihal dosen pembimbingku yang merupakan alasan utamaku ke kampus hari ini. Hari ini aku mau menyetor proposal penelitianku sebagai langkah awal penyelesaian tugas akhir kuliah. Beberapa teman menyarankan untuk menuju kantor jurusan. Tanpa banyak bertanya lagi, aku segera menuju ke tempat yang ditunjukkan. Dengan perlahan aku membuka pintu jurusan ketika terlihat beberapa mahasiswa sedang menjalani ujian meja di depan dosen yang juga kucari, diantara wajah-wajah itu ada seorang yang sangat kukenal karena merupakan teman satu posko waktu KKN di daerah dulu. Ketika dia melihatku aku menaikkan jempol tanda penyemangat untuknya dan kemudian menutup pintu dengan perlahan sekali, sekilas kulihat dia menahan ketawa, mungkin dia merasa diolok-olok oleh tingkahku barusan.
Sumber : Pinterest
        Panci yang kugunakan untuk memasak air mulai berbunyi. Tersentak lamunanku terhenti dan segera mematikan api dari kompor gas. Segera kuambil gelas, kutuang kopi dan air panas kedalamnya sambil mengaduknya. Setelah siap, kubawa kopi itu kedalam kamarku aku kembali melamunkan apa yang terjadi setelah itu.
        Setelah dari kantor jurusan aku kembali menunggu di gazebo dengan temanku. Menunggu seminar yang sedang berlangsung selesai. Satu jam telah berlalu dan kulihat temanku yang tadi kuberi jempol sedang berjalan-jalan dengan santainya. Kuhampiri dia dan bertanya perihal seminarnya. Banyak masalah katanya, dia kemudian bercerita masalah pengujinya yang tidak sempat datang, skripsinya yang penuh dengan coretan dan sebagainya. Sedih juga mendengarnya, tapi saat ini aku membutuhkan bantuannya. Kubujuk dia untuk menemaniku naik keatas gedung jurusan sekali lagi, dan untungnya dia bersedia. Kami berbincang-bincang dalam perjalanan menuju kesana. Sesampainya diatas segera kuhampiri dosen yang akan menjadi pembimbingku. Permintaan konsultasi proposalku ditolak mentah-mentah dengan alasan dia masih sibuk mengurus orang yang mau seminar. “sok sibuk”, umpatku dalam hati. Segera aku keluar dengan wajah lesu dan tak bersemangat.
       Kuletakkan kopi yang telah kubuat keatas meja belajarku dan aku sendiri berselonjoran diatas kasur sambil berusaha mengingat kejadian selanjutnya. Oh iya hari ini ada beberapa wanita dalam ceritaku.
    Aku yang saat itu sedang geram karena ditolak untuk konsultasi proposal bertemu dengan perempuan yang sedang bersandar kehilangan semangat di lantai dua sambil melihat-lihat orang yang berlalu lalang di bawah. Aku kenal dia, kami pernah sekelas dalam satu mata kuliah. Walaupun dia dari kelas berbeda. Aku yakin dia msih mengenalku. Benar saja seketika kusapa, perbincangan akrab terjadi diatara kami, temanku yang tadi menemani juga ikut berbincang hebat karena ternyata mereka memang sekelas sehingga terlihat sangat akrab.
          Perbincangan kami tidak memiliki pokok bahasan yang jelas, kami membahas hal-hal mulai dari proposal, pembimbing, COC, nikah, kerja, kampung tempat wisata, sampai ukuran payudara. Agak klise memang membincangakan hal seperti itu dengan perempuan, tapi dia sepertinya tidak terganggu dengan masalah itu. Saat itulah pandanganku melihat beberapa teman seposkoku yang lain sedang asik menikmati minuman dingin di lantai bawah gedung bersama beberapa temannya. Temanku menunjuk seorang wanita diantara mereka sambil berkata “itumi andalanna kelasku cika”. Aku memandangnya lekat-lekat. Dia memang cantik pikirku, wajahnya opal dibalut dengan jilbab berwarna biru tua, bajunya berwarna hijau sangat serasi dengan jilbabnya, kemudian dia memakai rok berwarna abu-abu selayaknya seorang putri di film kerajaan. Kulitnya mukanya bersinar terkena cahaya matahari, sedang hidungya terlihat sensual, tidak pesek dan tidak terlalu mancung, hanya sempurna, dan bibirnya merah natural tanpa pewarna berlebihan serta basah karena meminum minuman dingin lewat sedotan. Tidak heran kalau dia menjadi seorang primadona di kelasnya. Tapi aku tahu dia, aku pernah memfollow akun instagramnya karena terpesona dengan profil picturenya dan sampai saat ini belum di accept. Dia menggembok akun instagramnya untuk menahan pesonanya tidak dinikmati orang lain yang tidak dia kenal.
          Aku mengatakan itu kepada temanku, dan tanpa diduga dia langsung meneriaki sang primadona yang kami perhatikan dari lantai dua. “Rese’ mi seng”. Kataku ke dia. Dia belum berubah semenjak KKN, senang sekali ketika melihat orang lain salah tingkah didepannya. Untungya sang primadona tidak mendengar teriakan yang kuanggap cukup keras itu. Aku segera berpura-pura mempunyai urusan yang sangat penting dan segera memasuki ruang dosen sebelum tingkah temanku ini menjadi lebih gila lagi. Disana aku melihat dosen pembimbingku yang satunya sedang makan, segera saja kudatangi dia lalu menyampaikan tujuanku untuk konsultasi proposal, dan responnya sangat baik Hanya saja aku harus menunggunya selesai makan dahulu.
            Aku kembali menunggu diluar lagi, masih dengan 2 orang. Kami berbincang hanya sebentar krena temanku harus pergi ke ruangan lain untuk melanjutkan seminarnya dan ditinggallah kami berdua disini berbincang-bincang dengan sangat abstrak. Selang beberapa lama, aku kembali masuk ke dalam ruangan dan dosen pembimbingku sudah selesai makan. Segera saja kuberikan proposalku beserta surat-surat yang kiranya diperlukan kepadanya. Dia menyimpannya dan mempersilahkan aku untuk keluar.  Selesailah tujuanku ke kampus hari ini, aku tinggal menunggu hasilnya besok, entah revisi seperti apa yang akan aku terima.

Sumber : Pinterest
        Kuminum setenggak kopiku yang mulai mendingin karena terlalu lama aku mengenang kejadian seharian ini. Mungkin akan kutulis saja kejadiannya pikirku kemudian, nanti setelah kutulis akan kulihat bagian mana dari kisah itu yang membuatku resah seperti ini, kelak akan kubaca berulang-ulang tulisanku itu hingga kutemukan bagian anehnya dan akupun mulai menulis.

           

Comments